Belajar Bahasa Inggris

Standar

Suatu ketika, Anto (9) sedang diajari bahasa inggris oleh kakaknya, Tino (13). Materinya adalah pelafalan (pronunciation) tingkat dasar. Untuk beberapa kata, Anto sudah bisa menguasainya. Ia menyebutkan kata demi kata yang ditunjuk kakaknya dengan suara yang keras. hingga akhirnya Anto tiba di sebuah kata “Blue One”.

Lanjutkan membaca

Iklan

Lolos Dari Musibah

Standar
Pertigaan Adisucipto

Pertigaan Adisucipto (googlemaps)

Peristiwa ini aku alami ketika aku masih kuliah di Yogyakarta, kira-kira sekitar tahun 2003. Saat itu aku dan 4 kawanku hendak ke UNS untuk silaturahim dengan pengurus LDK di sana dengan berkendara sepeda motor. Kami berangkat ketika hari masih pagi, sekitar jam tujuh.

Ketika tiba di pertigaan Bandara Adisucipto, aku melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Karena ingin menjadi warga negara yang baik, akhirnya aku berhenti di garis tengah. Sedangkan kawanku yang lain berhenti di pinggir kanan, tepat di bawah lampu lalu lintas.

Lanjutkan membaca

Tebak-tebakan Oon

Standar

A: ada pesawat yang ngebawa 1000 paket yang isinya duren. suatu ketika, di atas sebuah kampung yang berbatasan dengan hutan, 2 paket di antara 1000 itu jatuh. naaah, tinggal berapa paket duren yang ada di pesawat itu?

B: 998

A: pertanyaan selanjutnya: Bagiamana cara memasukkan jerapah ke dalam kandang?

B: yaa… tinggal dimasukin aja…

A: kurang tepat. Jawabannya: buka pintu kandang., masukin jerapah ke kandang, tutup pintu kandang.

pertanyaan selanjutnya: Lanjutkan membaca

Kuping Wajan dan Kuping Tole

Standar

Si Tole (7) diminta oleh Bunda untuk menolongnya di dapur karena Bunda ada keperluan sebentar di ruang tengah. Si Tole ditugaskan untuk membolak-balik gorengan tumisan.

Si Tole bergegas mengaduk tumisan sesuai dengan titah sang bunda. Namun, si Tole mengalami kesulitan karena tangan kecil si Tole belum terlalu kuat untuk mengaduk secara baik. Tapi si Tole sungkan menyerah. Ia mengaduk dengan sekuat tenaga sehingga wajan menari-nari, bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri.

“Bunda… wajannya goyang-goyang nih…!” Teriak Tole. Ia ingin solusi dari permasalahan ini.

“Pegang kupingnya, Le…!” Sahut bunda dari ruang tengah.

beberapa saat kemudian…

“Masih goyang, Bunda…!”

Tergopoh-gopoh Bunda berjalan menuju dapur untuk membantu si Tole. Sampai di dapur, tiba-tiba Bunda tertawa. Ia melihat suatu adegan konyol yang sempurna. Si Tole, memegang sodetan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk memegang kupingnya sendiri. Ia terlihat sangat kepayahan mengaduk tumisan.

Tragedi Amin yang Bikin Malu

Standar

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2007, tapi aku lupa bulan apa. Saat itu, iqomat Isya’ sudah memanggil. Aku buru-buru berangkat ke masjid agar tidak ketinggalan rakaat pertama sholat Isya’. Kebetulan waktu itu, aku belum berwudhu, jadi aku mesti wudhu dulu di masjid. Sebelum wudhu, aku sempat melihat jumlah shaf shalat hanya ada satu baris.

Selesai wudhu, aku melangkah masuk dan langsung mengangkat tangan untuk takbiratul ikhram menggabungkan diri dengan jama’ah yang lain, masbuk satu rakaat. Oonnya, setelah aku mengangkat tangan, aku tidak memperhatikan surat yang dibacakan oleh imam. Lanjutkan membaca