Dari Jogja ke Indramayu: Tantangan Jenuh di Jalan Pulang [bagian 3 dari 3 tulisan]

Standar

Perut sudah kenyang. Mata sudah kembali terang. So, saatnya kita pulang. Hahaha… SMP banget ya… Sudah makan pulang. Atau SMA… sesudah makan assalaamu’alaikum?

Kembali ke Selatan
Setelah transit 3 jam di Kuningan, aku lanjutkan perjalanan melalui jalan yang sudah kulewati. Tujuanku adalah pulang lewat Ciamis agar aku bisa mampir ke rumah kawanku di Madura, Kecamatan Wanareja, di Cilacap sebelah barat. Tepat jam dua siang, aku memulai perjalanan kembali.

Menuruni Punggungan Pegunungan
Jalur Cikijing – Ciamis merupakan jalur pegunungan. Jalannya naik turun dan berliku. Kadang jalannya sangat menikung. Ditambah lagi kualitas jalannya yang kurang bagus karena sudah mulai terkelupas. Pemandangan didominasi oleh hijaunya sawah dan birunya pegunungan.

Kota Ciamis yang Bersih
Satu jam kemudian, tibalah aku di kota Ciamis. Kota ini cukup bersih dan indah. Di beberapa ruas jalan dibuat satu arah. Nah, pembuatan jalan satu arah merupakan salah satu indikasi bahwa kota tersebut cukup ramai. Ini penilaianku pribadi lho, soalnya rata-rata di setiap kota yang ramai, ada jalan satu arah.

Ciamis – Banjar
Lepas dari kota Ciamis, kita akan disambut oleh jalan yang mulus dan lurus ke arah timur. Di jalan ini kita bisa memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi. Bangunan juga masih sedikit dan berkelompok-kelompok. Kendati kita bisa memacu kendaraan dengan kencang, kita harus tetap memperhatikan jika ada anak kecil atau pengguna jalan lainnya yang menyeberang jalan. Sebetulnya, jalan ini akan sangat nikmat jika dilalui malam hari karena sepi dari aktivitas masyarakat.

Jalan Kota Banjar yang Teduh
Kota Banjar adalah kota yang unik. Untuk masuk ke pusat kotanya, kita harus menyeberangi sungai Citanduy. Entah dari jembatan sebelah barat ataupun sebelah timur, kita tetap harus menyeberangi sungai itu. Seolah-olah kota Banjar memiliki benteng yang dipagari oleh sungai besar dan memiliki dua pintu. Tapi, dalam perjalanan kali ini, aku tidak masuk ke pusat kota. Jalan utama yang kulalui terletak di utara sungai Citanduy. Jadi, jika anda menempuh perjalanan dari Ciamis menuju Cilacap, anda tidak perlu masuk ke pusat kota Banjar. Sepanjang perjalanan di Kota Banjar, jalanan cukup teduh karena dipayungi oleh pohon-pohon besar yang ada di sisi-sisi jalan. Sedikit ke arah timur, terdapat Kantor Polisi yang cukup besar, terletak di desa Banjar Pataruman atau sebagian orang menyebut Banjar Patroman. Kantor polisi ini adalah tempat Ustadz Abu Bakar Baasyir ditangkap paksa oleh densus 88.

Mampir di Madura, Cilacap
Beberapa kilometer selepas kota Banjar, aku menemui gapura ujung Provinsi Jawa Barat yang berdampingan dengan gapura Provinsi Jawa Tengah. Antar provinsi itu dipisahkan oleh sungai Citanduy. Masuk ke Provinsi Jawa Tengah kita akan memasuki hutan lindung. Hutan itu cukup luas hingga selalu menemaniku sepanjang jalan ke tempat kawanku di Madura. Madura? Oh… ternyata, ada pula Madura di Jawa Tengah. Aku pikir, Madura hanya ada di utara Jawa Timur.

Kawanku ini merupakan guru salah satu SMP di kampung itu. Di Madura, aku mampir sejenak di kosnya untuk sholat ashar. Alhamdulillah, ditraktir pula makan sore. Ketika akan pulang, aku dititipi pula gula merah khas Wanareja yang dibungkus dengan daun beberapa buah.

Rumah kawanku terletak di kampung Palugon, naik bukit yang terletak di Wanareja bagian utara. Aku pernah ke rumahnya di kampung itu dan menginap selama dua malam. Tapi, mungkin akan aku ceritakan perjalananku itu di lain waktu.

Disergap Lelah di Lumbir
Langit sudah berwarna jingga ketika aku memasuki daerah Lumbir. Memang, semenjak aku dari Madura sampai melewati kota Majenang, aku tidak istirahat. Padahal, kota terakhir yang cukup ramai untuk dihampiri adalah kota Majenang itu. Tapi, bagaimanapun perjalanan harus terus dilanjutkan. Lumbir, sebuah daerah yang terkenal cukup seram karena jalannya yang sempit, curam, dan berliku. Ditambah minimnya penerangan dan letak kampung yang berjauhan sehingga tampak gelap dan sepi. Tahun 2009 yang lalu, salah seorang guruku pernah kecelakaan karena dipepet bus di sebuah tikungan. Mobilnya masuk jurang yang cukup dalam di daerah itu. Dan parahnya, di daerah ini aku mulai diserang perasaan lelah. Lelahku ini ditimbulkan oleh jenuh karena pemandangan kiri-kanan jalan yang sudah mulai tampak gelap sehingga tidak terlihat apa-apa. Tapi, lelahnya mata tetap aku lawan. Dan akhirnya aku tiba di Wangon selepas waktu maghrib. Istirahatnya ditunda hingga SPBU Jatilawang untuk sekedar meluruskan kaki.

Perjalanan Berlanjut
Sambil menahan kantuk, aku terus melanjutkan perjalanan. Sing penting nyampe, begitu pikirku. Soalnya, sudah lewat dari anggaran waktu. Aku berharap tiba di Jogja jam 20.00. Tapi ternyata, jam delapan ini aku masih di Kebumen. Lelah sekali rasa badan ini. Ingin rasanya aku tinggal motor yang kukendarai dan menyetop bis antar kota untuk ke Yogyakarta.

Tiba di Jogja
Akhirnya, aku tiba pula di Jogja pukul 22.00. Lapar sudah terasa semenjak aku di Purworejo. Setibanya aku di kontrakan, aku langsung berjalan kaki menuju angkringan yang terletak tidak jauh dari kontrakanku. Melahap apa yang ada di sana, hingga aku kembali segar.

Epilog
Selama perjalanan, aku menghabiskan uang sekitar sembilan puluh ribu rupiah untuk bensin, dan sekitar tiga puluh ribu rupiah untuk makanan dan minuman ringan. Sehingga total dana yang kugunakan sekitar seratus dua puluh ribu rupiah. Tapi, dana itu masih di luar “ongkos” untuk pemulihan tubuh yang lelah karena perjalanan, dan lain-lainnya. Oh iya… motor yang kukendarai adalah Astrea Grand keluaran 1996. Alhamdulillah mesinnya masih joss untuk diajak jalan dengan jarak hampir 1000 KM.

Kendati demikian, aku masih belum kapok untuk melakukan perjalanan jauh lagi menggunakan sepeda motor. Bahkan aku dan kawanku di Lampung, memiliki cita-cita untuk melakukan trip Lampung – Aceh selama seminggu. Semoga saja bisa terealisasi. Semoga!

Lihat juga:
Dari Jogja ke Indramayu: Berangkat [bagian 1 dari 3 tulisan]
Dari Jogja ke Indramayu: Transit di Kuningan [bagian 2 dari 3 tulisan]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s