Dari Jogja ke Indramayu: Transit di Kuningan [bagian 2 dari 3 tulisan]

Standar

Kawanku sudah sukses melangsungkan pernikahannya. Dan, aku kembali dititipkan di rumah pamannya. Sendirian….

Diam itu membosankan
Dua hari kebosanan menyergapku. Sepi dan sendiri. Hari ini pasti kawanku tengah menikmati masa-masa indah dengan istrinya. Dan aku tidak punya teman untuk sekedar ngobrol. Jadilah aku hanya tidur, atau baca komik dan buku yang aku beli di minimarket yang ada di kota itu.

Hari kedua, sore harinya, ah… itu dia kawanku sudah kembali. Senyum sumringah menghiasi wajahnya. Dan untungnya, dia masih ingat denganku. Aku memang sudah berpesan kepadanya, jika aku akan pulang ke Jogja esok harinya. Sehingga, malam ini ia datang menjumpaiku dan menginap di kampungnya. Kalau kemarin kan, ia menginap di rumah istrinya.

Berangkat untuk pulang
Pukul tujuh pagi, aku berpamitan dengan keluarga kawanku, dan sempat dititipi sangu “bensin” untuk pulang ke Jogja. Malu-malu aku menerimanya. Sungguh Allah Maha Tahu, pikirku. Ia memberikan rezeki kepada makhlukNya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Setelah berpamitan, aku arahkan roda motorku ke arah timur, menuju Cirebon. Kemarin, aku sudah menghubungi kawanku yang tinggal di daerah Kuningan, jika aku akan mampir ke rumahnya.

Ragu-ragu di pertigaan Kadipaten
Kesalahan terbesarku adalah aku tidak membawa peta ataupun catatan rencana perjalanan. Sehingga, aku menunda-nunda untuk belok ke arah kanan. Hatiku berbisik untuk potong jalan ke Kuningan, aku harus melalui Kadipaten. Tapi, lagi-lagi, otak yang ada di dalam kepalaku menolak. Padahal, ketika masih di Jogja, aku berencana ke Kuningan lewat Kadipaten dan Majalengka. Akhirnya, aku tetap mengambil jalan lurus ke arah Cirebon. Biarlah aku lewat Cilimus hingga tembus ke Linggarjati. Aku ingin melihat pemandangan kaki gunung Ciremai yang konon kata kawanku sangat indah.

Salah ambil jalan di Cirebon Barat
Pertigaan tol Palimanan barusan saja aku lalui, dan tibalah aku di pertigaan yang tidak pernah aku kenal. Seingatku, jalan ke kanan adalah jalan ke Kuningan. Jadilah aku lalui jalan ke arah kanan.

Perjalanan sudah kulalui selama setengah jam. Tapi tidak ada tanda-tanda jalan mengarah ke selatan. Jalan ini malah menuju barat.

Diriku menjadi ketar-ketir. Mungkinkah jalan ini menuju Bandung? Jika benar, maka aku harus berbalik arah. Tapi kali ini, hatiku yang berkeras. Kalau aku berbalik, maka perjalanan akan tambah jauh. Sambil menempuh perjalanan di jalan yang penuh tanda tanya itu, aku melihat papan petunjuk arah bertuliskan “Bandung”. Ya Rabbi… aku mengarah ke Sumedang dan Bandung rupanya. Akhirnya aku memutuskan, aku harus segera mencari jalan ke arah kiri. Karena logikaku, arah kiri adalah arah ke selatan. Selatan pasti tembus ke Kuningan. Dan setelah berjalan cukup jauh, memang ada jalan ke arah kiri. Tapi, ternyata tanpa kusadari aku sudah ada di Kadipaten. Dalam hati aku tertawa. Sudah berputar-putar cukup lama, ternyata memang aku harus lewat Kadipaten.

Tiba di Majalengka
“Terminal angkot Majalengka,” pikirku ketika melihat banyak angkot berwarna biru di sebuah area. Untung saja ada penunjuk arah ke Kuningan di daerah situ. Terus saja aku lajukan motorku. Gunung Ciremai terlihat gagah di sebelah kiriku, menandakan jika aku tengah berkendara melingkari gunung tersebut, melalui pabrik genteng yang konon terbesar se-Jawa Barat di Jatiwangi.

Tanjakan ke kuningan via Cikijing
Aku melirik sebuah plang bertuliskan Pasar Cikijing. Dan aku teringat cerita seorang kawan yang dulu juga pernah tersasar di Cikijing. Bedanya ia dari arah Kuningan hendak ke Tasikmalaya, tapi salah belok di Cikijing, jalan ke arah Bandung.

Aku membatin dalam hati jika aku sudah berada di jalan yang benar. Dan alhamdulillah, tepat di depan sana ada pertigaan dengan plang hijau, Kuningan (panah lurus), Ciamis (panah kanan).

Tanjakan dan tikungan menyambutku. Bentuk jalannya mirip dengan tikungan irung petruk di Kalibawang Kulon Progo atau di Gunung Kidul. Saking tinggi dan curamnya jalan itu, aku bisa melihat hamparan sawah dan kampung yang ada di bawah.

Jalanan masih saja berliku hingga Waduk Darma. Aku juga melewati kampung Haurkoneng. Konon di sini, pernah terjadi pelanggaran HAM berat yang dilakukan sekelompok orang.

Kuningan!
Pukul sebelas, tibalah aku di Kuningan setelah melalui perjalanan yang cukup berat. Kotanya ramai dan sering macet. Terutama di daerah pasar Kuningan. Walaupun jalannya sudah dibuat satu arah, masih saja sering macet. Di kota itu, aku silaturahim ke rumah seorang kawan kampus. Ia tinggal  di dekat masjid sebelah barat kantor bupati Kuningan. Untuk menuju rumahnya, aku harus mblusuk melalui gang-gang sempit. Alhamdulillah, di sana aku dijamu dengan masakan khas sunda. Nasi panas, ikan mas goreng, sambel dan yang utama, lalapan. Slurp…

[Berikutnya: “Dari Jogja ke Indramayu: Tantangan Jenuh di Jalan Pulang” bagian 3 dari 3 tulisan]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s