Dari Jogja ke Indramayu: Berangkat [bagian 1 dari 3 tulisan]

Standar

Perjalanan ini aku lakukan tahun 2009, untuk menghadiri undangan pernikahan seorang kawan di Kandanghaur, Indramayu. Aku memilih menggunakan motor karena lebih fleksibel dan irit.

Pagi hari, persiapan berangkat.
Pagi itu, aku menyiapkan perlengkapan sepeda motorku. Packing barang sudah aku selesaikan malam tadi. Semua perlengkapan dan peralatan individu sudah masuk daftar dan sudah kuconteng semua. Dengan penuh semangat, motor kupanaskan agar lancar di perjalanan.

Berangkat ke Indramayu
Tiba-tiba, sekitar jam tujuh, hujan yang agak lebat menyapaku. Padahal, sekian menit sebelumnya, matahari masih tampak gagah di ufuk timur. But, show must go on. Aku kenakan mantel hujan kelelawarku, dan mulai menembus tirai hujan ke arah barat. Isi bensin full tank di Gamping. Alhamdulillah, belum sampai masuk kota Kulon Progo, hujan sudah reda.

Hampir kecelakaan di Kebumen
Kota demi kota aku lewati hingga tibalah di Kebumen. Nah, pas keluar dari jalan lingkar Kebumen, motor yang ada di depanku tiba-tiba mengerem. Padahal, didepannya tidak ada halangan apa-apa. Aku yang kurang awas saat itu menjadi terkejut hingga “menyundul” ban belakang motornya. Dan, ternyata di belakangku, sekitar 15 meter ada truk besar yang mengklakson keras-keras telah siap-siap menerkam.

Untunglah aku bisa kembali menguasai keseimbangan motorku. Alhamdulillah, nothing bad happen.

Rehat di SPBU Sampang.
Sebetulnya, aku belum merasakan lelah. Tapi, apa salahnya irit tenaga. Kebetulan mushollanya bagus. Jadi aku sempatkan untuk sholat dhuha dan numpang rebahan. WCnya juga bersih, sehingga aku juga numpang bongkar ginjal di sini.

Tiba di pantura
Rasa jenuh mulai menyergap akibat jalanan yang monoton selepas pertigaan Prupuk. Jalan aspal yang di kanan dan kirinya hanya ada kebun yang terhampar. Landscapenya juga sangat monoton.

Hati ini meminta untuk mencari tempat pitstop. Tapi, otak di dalam kepala ini terus menerus menolaknya. Hingga akhirnya keluar dari pejagan, dan tibalah aku di pantura.

Mendadak otakku kembali segar melihat kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan pantura. Seolah tidak ingin melewatkan adrenalin yang sudah terisi, motor kupacu agak kencang menyesuaikan dengan arus kendaraan. Menyalip truk-truk trailer yang berukuran besar dan panjang.

Tidur di atas motor
Rasa kantuk akhirnya sudah tidak dapat kutahan lagi. Lirik kiri kanan mencari tempat melepas penat. Dan akhirnya, aku melihat ada SPBU di sebelah kiri jalan. Seingatku, nama daerah itu adalah Mundu. Setelah mengisi bensin, segera aku mencari tempat teduh dan memejamkan mata sejenak di atas motor selama beberapa detik. Hanya beberapa detik, saudara-saudara. Dan syukurlah mata sudah kembali segar.

Kuraih ponselku untuk menelpon kawan di Indramayu untuk mengabarkannya jika sebentar lagi aku akan tiba. Maksudnya, biar disiapin makan siang, hehehe…

Oleh kawanku, aku dianjurkan lewat dalam kota Cirebon untuk terus ke Indramayu via Balongan.

Asal ambil jalan di Cirebon
Kota cirebon sungguh ramai. Mobil dan motor banyak berseliweran di kota itu. Untuk menuju Indramayu, patokanku hanya plang hijau petunjuk arah yang bertuliskan Indramayu. Intinya sih, ambil kanan, kanan, dan kanan, menyusuri pantai utara. Dan jalan itu adalah jalan pertama yang kulalui di daerah Cirebon. Biasanya, sebelum ada jalan tol Cirebon, aku lewat dalam kota. Itu pun, naik bis.

Selama perjalanan sampai ujung Cirebon, aku mendapati jalan yang halus dan lebar. Melalui makam Sunan Gunung Jati, salah seorang sunan dari 9 sunan yang terkenal di Indonesia.

Setelah keluar dari kota cirebon ke arah Balongan, Indramayu, ukuran jalan menjadi lebih kecil dan pepohonan makin rimbun meneduhi perjalanan. Jalanan yang sepi dan pemandangan yang indah merangsang diriku untuk memacu motorku lebih cepat lagi.

Pertama kali ke Balongan, Indramayu
Aku hanya mengikuti instingku. Siang bolong itu aku telah masuk Balongan dan mencari arah Jakarta. Soalnya, kalo aku tetap ambil jalur Indramayu dan masuk kota, maka perjalanan akan menjadi semakin jauh lagi.

Kota Balongan adalah kota yang sepi, itu pun kalau jika bisa disebut sebagai kota. Sebagai kota Pertamina, daerah ini dihiasi oleh tangki-tangki besar penyimpanan minyak milik Pertamina.

Dijamu kawan di Losarang
Akhirnya, aku tiba juga di pertigaan Lohbener. Pertigaan ini adalah jalur utama Pantura. Dan sebentar kemudian, sekitar jam 13 aku tiba di Losarang, di sebuah SMA tempat kawanku mengajar. Dan tepat dugaanku, aku dijamu makan siang, makanan khas Cirebon pula. Namanya, nasi lengko.

Kandanghaur, rumah kawanku.
Setelah beristirahat sejenak dan sholat Zhuhur di Losarang, aku diajak kawanku untuk ke rumahnya di Kandanghaur, lima kilometer dari Losarang. “Mending tidur di sana saja,” katanya.

Kandanghaur adalah salah satu ibukota kecamatan yang terkenal di sepanjang jalur pantura. Bagaimana tidak. Setiap menjelang lebaran, jalan di kota ini kerap kali macet. Pasar tumpah istilahnya.

Rumah kawanku terletak di sebelah selatan jalan. Di belakang masjid Kandanghaur. Kampungnya ramai. Aku dititipkan di rumah pamannya. Karena aku sudah sholat jama’ ashar di Losarang, seharian itu aku isi dengan tidur. Benar-benar tamu ngelunjak yah…

Malam hari, setelah sholat isya’, baru aku bersilaturahim dengan ayah kawanku di rumahnya hingga pukul 22.

Pernikahan kawan di Patrol, Indramayu.
Keesokan harinya, tibalah hari berbahagia itu. Aku ikut ke Patrol, kampung tempat calon istri kawanku. Aku ke sana bersama rombongan keluarga pengantin pria. Kami berangkat menggunakan angkutan semi bus. Orang di sana biasa menyebut kendaraan ini sebagai Elf atau elep. Nah, kendaraan ini cukup terkenal sebagai penebar teror di Indramayu. Suka ngerem mendadak ketika disetop ataupun mengambil penumpang. Tapi, karena angkutan ini sedang dicarter, adrenalin itu bisa ditunda sementara. Perjalanan dari Kandanghaur ke Patrol memakan waktu kurang lebih 30 menit, melalui Eretan Kulon yang berbatasan langsung dengan pantai utara jawa.

[Selanjutnya: “Dari Jogja ke Indramayu: Transit di Kuningan” bagian 2 dari 3 tulisan]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s