Lolos Dari Musibah

Standar
Pertigaan Adisucipto

Pertigaan Adisucipto (googlemaps)

Peristiwa ini aku alami ketika aku masih kuliah di Yogyakarta, kira-kira sekitar tahun 2003. Saat itu aku dan 4 kawanku hendak ke UNS untuk silaturahim dengan pengurus LDK di sana dengan berkendara sepeda motor. Kami berangkat ketika hari masih pagi, sekitar jam tujuh.

Ketika tiba di pertigaan Bandara Adisucipto, aku melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Karena ingin menjadi warga negara yang baik, akhirnya aku berhenti di garis tengah. Sedangkan kawanku yang lain berhenti di pinggir kanan, tepat di bawah lampu lalu lintas.

Belum lama berhenti, sekonyong-konyong truk fuso hijau yang sangat besar menerobos lampu merah. Posisinya ada di antara motorku dan kawanku, sedemikian tipisnya jarak antara aku dan truk itu, hingga spion motor yang kukendarai sempat tersenggol. Suara rem truk itu berdecit memekakkan telinga. Hingga akhirnya truk itu berhenti sekitar 10 meter di depanku.

Pak polisi keluar dari posnya mencoba melihat apa yang terjadi. Ia memanggil truk itu dan meminta untuk menepi. Ia juga memanggil diriku. Wah… pikiranku jadi kalut. Seharusnya, pihak yang salah kan truk hijau itu, bukan aku?

Di dalam pos polisi, surat-suratku diminta oleh pak polisi. Tapi, walah… koq supir truk itu malah dilepas pak polisi.¬† Sampai saat itu, aku masih belum mengerti dan menyadari apa yang terjadi hingga pak polisi bertanya, “dik, tau ndak salahmu itu apa?”

“Pak… perasaan saya itu nggak melanggar deh…,” jawabku

“Tau nggak dik, kalo jalan ini, lurus jalan terus.”

“Pak… saya ini nggak liat ada rambu lurus jalan terus. Karena tidak mau melanggar, maka saya berhenti.”

“Coba kalo adik nggak percaya, adik lihat keluar.”

“Dimana pak?”

“Di sana…,” katanya sambil menunjuk ke arah lampu lalu lintas yang terletak di utara jalan.

Karena aku masih tidak percaya, maka aku langkahkan kakiku ke arah yang ditunjuk pak polisi.

“Eh… ada ding…,” batinku.

Aku kembali ke pos polisi, meminta maaf dan berterima kasih kepada pak polisi. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo sambil diiringi jantung yang berdebar-debar serta zikir-zikir panjang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s