Supir dan Mobil (Hanya Sebuah Pengibaratan)

Standar

mobilMobil, siapa yang tidak kenal dengan kendaraan ini. Hampir setiap hari kita melihatnya berseliweran di jalan-jalan. Jenisnya pun ada banyak. Sebut saja jip, sedan, van, mobil bak, truk, bus, dan lainnya.

Mungkin, kita pernah melihat mobil yang bodinya bagus dan berwarna indah hingga kita bermaksud memilikinya. Tapi setelah kita perhatikan lebih dalam terutama melihat bagian mesinnya, ternyata mesinnya adalah mesin jahit, bahkan bisa jadi mesin ketik. Sungguh mengecewakan. Bagai panggang jauh dari api. Bagaimana bisa jalan jika mesinnya seperti itu?

Atau ada pula mobil yang digembar-gemborkan sebagai Mobil Tenaga Surya. Ternyata, lagi-lagi produk ini mengecewakan. Mobil ini tidak dapat digunakan sama sekali semenjak pabrik itu juga memproduksi Pompa Air Tenaga Surya. Soalnya sudah sejak sebulan yang lalu Surya melakukan mogok makan di pabrik karena mengeluhkan asupan nutrisi yang tidak sepadan dengan tenaga yang ia keluarkan untuk memompa air dan mendorong mobil.

*Oke… sudah cukup haha hihinya. Sekarang kita serius*

Supir dan Mobil
Supir dan mobil merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa supir, mobil tidak akan bisa mencapai tujuan. Tanpa mobil, supir akan sulit mencapai tujuan walaupun ia bisa melakukannya dengan berjalan atau berlari.

Mobil yang baik jika dikendarai oleh supir yang mengantuk atau mabuk, tentu jalannya menjadi tidak baik. Tabrak sana dan tabrak sini. Kecelakaan pun tidak terhindarkan. Namun jika dikendalikan oleh supir yang cakap dan awas, bisa dijamin perjalanan akan aman-aman saja selama tidak terjadi force majeure.

Mobil yang buruk pun masih tetap bisa digunakan untuk sampai ke tujuan selama supirnya tahu kelemahan dan tindakan antisipatif yang dibutuhkan ketika mobil itu mengalami hambatan. Memang akan banyak rintangan dan waktu yang terbuang. Tapi yang paling penting adalah berjalan ke arah tujuan. Biar lambat asal selamat, begitu pepatah menyebutkan.

Ibarat mobil yang bergerak ke depan, supir mobil harus melajukan mobilnya untuk selalu maju ke depan. jika moncong mobilnya menghadap ke belakang dan kemudian ia melakukan gerakan maju, maka pada substansinya si supir melajukan mobilnya maju ke belakang alias mundur.

Untuk menghindari tersesat di daerah yang sama sekali kita buta, kita butuh petunjuk.

Terkadang, sang supir tersesat di sebuah daerah. Tetapi selama ia tahu nama tujuannya, dia bisa bertanya ke penduduk sekitar yang mengerti seluk beluk daerah itu. Ibarat sang supir berangkat dari Yogyakarta hendak menuju Jakarta. Tapi dalam perjalanan, ia tersesat karena salah ambil belokan di daerah Sampang. Ia tinggal bertanya kepada penduduk sekitar tentang arah Jakarta. Namun, jika sang supir tidak tahu kemana tujuannya, tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Untuk menghindari tersesat di daerah yang sama sekali kita buta, kita butuh petunjuk. Petunjuk itu adalah peta. Bisa juga dengan GPS. Dengan mempelajari peta, kita akan tahu tempat-tempat yang akan kita singgahi selama kita menuju Jakarta. Ibarat jika sang supir ingin ke Jakarta, ia bisa lewat jalur Bandung atau jalur Cirebon. Atau bahkan blusukan lewat pinggir Kuningan dan pedalaman Subang.

Bisa juga suatu saat, ketika ada supir mobil A dan supir mobil B ingin berangkat ke Jakarta dari Yogyakarta. Keduanya berbeda dalam memilih jalan. Supir mobil A memilih lewat Purwokerto karena ingin membeli sale pisang khas Banyumas sebagai buah tangan untuk anaknya. Sedangkan Supir mobil B memilih lewat dan mampir Pekalongan via Semarang untuk membeli batik pekalongan sebagai oleh-oleh untuk ibunya. Selama kedua supir punya referensi peta yang sama, toh nantinya mereka akan berjumpa di Brebes untuk sekedar mencicipi telor asin khas Brebes dan membeli beberapa ikat bawang merah untuk dapur mereka.

Jalan Ini Jalan Panjang
Untuk melakukan sebuah perjalanan panjang, kita harus siap mengantisipasi apa yang terjadi. Prosedur SOP kendaraan yang tertulis di buku perawatan juga harus kita taati. Peta harus sudah rampung dipelajari. Tujuan harus diketahui. Karena jika pun jalan utama yang akan kita lewati tergenang banjir setinggi satu meter, kita masih bisa bertanya kepada penduduk tentang jalan alternatif ke tempat tujuan. Servis berkala sangat membantu dalam menjaga dan mengontrol kesehatan mobil untuk mencegah kerusakan-kerusakan yang tidak kita inginkan selama perjalanan. Kita tentunya tidak menginginkan baut-baut mesin pecah karena alpa pada umur penggantian sehingga umurnya masa pakainya habis. Sehingga selayaknya kita senantiasa mengganti baut-baut mesin itu setelah umurnya telah mencapai umur penggantian.

Begitu pula dengan supir. Ia harus menjaga kesehatan fisik dan mentalnya agar sanggup melakukan perjalan panjang. Ia juga harus memperbaharui pengetahuannya mengenai karakter jalan dan cuaca di tempat-tempat yang akan ia lalui. Pembentukan fisik dan mental itu tidak dapat dilakukan seketika. Ia harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus.

Kadangkala, dalam perjalanan panjang, supir membutuhkan istirahat. Berhenti di rumah makan untuk sekedar meluruskan kaki dan mengganjal perut. Sedikit berolahraga untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Kemudian membuka peta untuk mengingat-ingat tempat-tempat yang sudah dan akan ia lalui.

Ada saatnya supir harus melewati jalanan rusak yang berlubang, tanah lumpur lembek yang becek, jalan berbatu cadas yang belum pernah diaspal, dan jalanan buruk lainnya. Hal ini akan sangat membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian ketika menghindari setiap rintangan. Bagaikan seseorang yang berjalan melalui rimbunnya semak berduri, tentunya ia akan berhati-hati dalam memilih jalan, bukan?

Jika kita ibaratkan mobil sebagai raga dan supir sebagai jiwa…

Akan lebih baik lagi apabila kita membentuk perkumpulan supir yang memiliki kesamaan tujuan. Hal ini akan sangat berguna bagi tiap supir yang akan menempuh perjalanan. Misalnya, ada seorang supir yang ingin ke Bandung, namun ia hanya mengenal jalur Malang – Yogya. Ia belum tahu jalur Yogya – Bandung. Tentunya supir itu akan meminta tolong kepada rekannya yang tahu jalur Yogya – Bandung untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya mengenai jalur Yogya-Bandung. Jika ternyata nantinya sang supir tersesat di daerah Tasikmalaya, supir satu perkumpulan yang tinggal di Garut akan memandunya hingga bisa menemukan jalannya kembali.

Jika kita ibaratkan mobil sebagai raga dan supir sebagai jiwa, keduanya harus sama-sama dalam keadaan baik ketika melakukan suatu perbuatan baik sehingga perbuatan baiknya akan berbuah baik. Namun, adakalanya raga mengalami cacat. Dalam keadaan inilah ruh menjalankan potensi raga secara maksimal. Contohnya seperti Ahmad Yassin, seorang pejuang dari Palestina. Walaupun raga terpasung di kursi roda, namun jiwanya terbang mengangkasa. Tiap-tiap pohon amalnya berbuah baik sampai-sampai Zionis Yahudi takut kepada seorang manusia lumpuh yang kata-katanya dapat menggerakkan Palestina dalam gerakan Intifadhah I dan II.

Selalu ada kesempatan untuk kita semua untuk memperbaiki diri. Kesempatan yang sama juga ada bagi kita yang ingin memperburuk diri. Ibarat supir mobil yang berada di persimpangan. Kita bebas memilih jalan yang akan dilalui. Masalahnya, apakah kita tahu harus lewat mana untuk kembali ke jalan yang benar setelah tersesat sedemikian jauh?

Mas Sopir
Terinspirasi dari perjalanan Malang – Yogya PP via Kandangan Kediri dan via Dongko Trenggalek.

Iklan

4 thoughts on “Supir dan Mobil (Hanya Sebuah Pengibaratan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s