Kenangan di Stasiun Mati Wirosari

Standar

Wirosari adalah nama Kota Kecamatan Wirosari yang terletak lebih kurang 30km di sebelah timur kota Purwodadi, kabupaten Grobogan. Di tempat inilah Mbahku tinggal. Jika liburan panjang ketika aku TK dan SD, aku sering sekali “dibawa” pulang ke Wirosari oleh orang tua. Sampai sekarang pun, aku menyempatkan diri untuk ke sana, menunaikan hak Mbah untuk ditiliki oleh cucunya.

Di manakah tempat yang paling kusukai di  Wirosari ketika liburan sekolah dulu? Jawabku ada tiga. Stasiun Wirosari, Pemandian Mudal di kampung Karangasem, dan di Bledug Kuwu. Namun, Stasiun Wirosari merupakan tempat yang kerapkali ingin aku singgahi ketika itu. Karena biasanya, setelah subuh ayahku mengajakku dan adikku jalan pagi ke Stasiun Wirosari.

Suasana ketika itu, sekitar tahun 89-an aku masih berusia 6 tahun, Stasiun Wirosari sudah menjadi stasiun mati. Hanya saja perlengkapan perkereta apiannya masih ada. Contohnya seperti talang air untuk mengisi tangki uap lokomotif dan persinyalan. Rel-relnya juga masih lengkap terpasang.

Lantai Gerbong CRnya sudah bolong sehingga bagian bawahnya dapat terlihat dengan jelas.

Stasiun itu cukup luas. Seingatku ada 6 atau 8 jalur rel di stasiun itu. Selain itu, aku masih ingat ada satu buah gerbong CR dan dua gerbong pengangkut kricak dalam satu rangkaian yang berada di jalur dekat peron stasiun. Lantai Gerbong CRnya sudah bolong sehingga bagian bawahnya dapat terlihat dengan jelas.

Kemudian, di sebelah utara stasiun, terdapat rel yang dulunya bisa diangkat. Menurut ayahku, alat itu adalah timbangan kereta. Bentuknya seperti jembatan yang panjangnya seukuran dengan gerbong kereta. Namun jembatan itu tidak berpagar. Aku lupa seperti apa instrumen pengangkatnya.

Gerbong yang suka aku naiki adalah gerbong kricak. Di atas gerbong itu aku bermain-main sambil berkhayal menjadi pejuang Indonesia yang menembakkan mitraliyur ke pesawat cocor merah Belanda. Fantasi ini diinspirasi dari film “Kereta Api Terakhir” (1981).

Ayahku bercerita jika dulu ia lebih hapal nomor lokomotif ketimbang pelajarannya. Soalnya ketika ia SMA sekitar tahun 1960-an, ia juga seringkali jadi asisten masinis dadakan lokomotif uap. Ia tahu jika kode nomor  lokomotif menentukan kecepatan kereta. Mungkin jika dibanding saat ini, kita mengenal ada lokomotif seri BB dan CC. CC201 tentu berbeda kemampuan dengan CC203 walaupun sama-sama memiliki tiga gardan roda penggerak. Sedangkan seri BB hanya memiliki dua gardan penggerak.

Ayahku juga bercerita tentang kejadian PLH (Peristiwa Luarbiasa Hebat). Sebuah kecelakaan besar  ketika tahun 50an di Stasiun Tawangharjo, 10 kilometer di sebelah barat Wirosari, yang melibatkan Mbahku. Syukur alhamdulillah, Mbahku selamat dari kecelakaan yang banyak menewaskan orang saat itu.

Konon kabar yang kudengar dari mas sepupuku ketika aku masih SD, stasiun ini hendak dijadikan terminal bus. Namun sekarang, stasiun ini malah menjadi tempat pemukiman dan disesaki oleh bangunan-bangunan semi permanen.

Kita masih dapat menelusuri dengan bangkai rel-relnya di rumah-rumah penduduk dan ruko pedagang yang terletak di tanah stasiun itu. Ada yang di pekarangan depan, ada juga yang di pekarangan belakang. Bangunan stasiun juga sudah berganti wajah. Ah, aku lupa sudah menjadi apa ia sekarang.

Semoga pada kunjungan berikutnya aku bisa mampir ke sana untuk sekedar bernostalgia mengenang masa kecil. Dan aku harap, aku masih dapat menemukan apa yang aku lihat di masa itu.

Iklan

12 thoughts on “Kenangan di Stasiun Mati Wirosari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s