Kulineran a la Kereta Ekonomi

Standar
pedagang pecel

(foto minjem) pedagang pecel

Ada hal yang menarik ketika naik kereta kelas bisnis atau kereta ekonomi. Namun, utamanya adalah kereta ekonomi sebagai kereta sejuta umat. Karena di kereta kelas ini, semua pedagang makanan lengkap dengan seluruh atributnya “diizinkan” untuk masuk.

Jika anda naik kereta ke arah Jakarta dari Yogyakarta, ketika masih di daerah Yogyakarta, anda akan disuguhi bakpia dan gudeg jogja.

Masuk daerah Kutoarjo, giliran klanting yang dijajakan. Purwokerto, gantian makanan khas banyumasan seperti getuk goreng, nopia, dan sale pisang sokaraja yang ditawarkan. Oh ya, biasanya di daerah ini ada pedagang pecel khas purwokerto yang pake kembang kecombrang. Tapi saya belum pernah coba.

Lanjut ke daerah Brebes, ada telor asin yang dijual sama pedagang.

Lanjut ke daerah Brebes, ada telor asin yang dijual sama pedagang. Mampir di Indramayu, penjual mangga indramayu tak mau ketinggalan giliran untuk menawarkan dagangannya.

Jika melakukan perjalanan ke arah Bandung, anda akan tetap disuguhi makanan khas banyumasan sampai masuk daerah Ciamis. Tapi aku kurang memperhatikan untuk jalur Yogya – Bandung. Paling tidak, anda akan menemui penjual stroberi yang ramai ditawarkan ketika masuk daerah Jawa Barat.

Untuk perjalanan ke arah timur, paling jauh saya hanya sampai di Blitar. Ketika memasuki daerah Madiun, anda akan sering ditawarkan brem, makanan khas Madiun yang dibuat dari endapan air tape. Tidak luput pula pecel khas Madiun yang segar. Masuk Kertosono, giliran penjual pecel tumpang khas kertosono yang beraksi. Daerah Kediri, ada juga yang jual Ledre. Semacam makanan khas Kediri yang dibuat dari pisang.

Tapi yang kerapkali terlihat sepanjang perjalanan ke timur ataupun ke barat adalah pedagang tahu pong dan tahu sumedang yang diberi harga Rp. 1.000,00. Untuk nasi dan sebangsanya, rata-rata harganya Rp. 3.000,00 sampai Rp. 5.000,00. Untuk makanan khas oleh-oleh dalam kemasan, biasanya bisa ditawar sampai Rp. 10.000,00.

Sekedar pesan, intensitas pedagang di malam hari lebih sedikit ketimbang siang hari. Tak lain karena para penumpang lebih memilih tidur telentang merdeka di sela-sela jalan dan lorong kereta sehingga pedagang kesulitan untuk lewat.

Referensi:

Pasar terpanjang di dunia:  http://antondewantoro.wordpress.com/2008/07/11/dimanakah-pasar-terpanjang-di-dunia/

Pasar Dadakan dalam Kereta Logawa:  http://liputan1.blogspot.com/2009/01/pasar-dadakan-dalam-kereta-logawa.html

Iklan

4 thoughts on “Kulineran a la Kereta Ekonomi

  1. isadvent

    Sayang (atau untungnya ya?) aku udah meninggalkan “dunia yang gelap”. Kadang pingin juga bertualang di lorong itu. Tapi kalo untuk mencicipi kuliner a la kereta ekonomi, kok kayaknya males ya.

  2. hmm…tampaknya siang atau malam, pedagang tetap ramai bung…
    memang klo malam gak ada yang jualan barang2 gk jelas (gunting, buku, tisu, korek, maenan anak, baju dll) yang ada cuma makanan ama minuman, jadi keliatan sepi

    untuk makanan (tahu, keripik, nasi telor dan nasi ayam) semua masih wajar, harga nya masih masuk akal..
    tapi klo minumannya..gila mahal banget… gak beres tu yang kasih harga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s