Nyicip Nggembel di Stasiun Madiun

Standar
(foto minjem) stasiun madiun + KRDI Madiun Jaya di jalur 4

(foto minjem) stasiun madiun + KRDI Madiun Jaya di jalur 4

Peristiwa ini terjadi waktu aku pulang dari Blitar yang ceritanya ada di sini. Karena ga tahan berdiri di kereta Matarmaja Ekspres dengan suasana yang memang tidak nyaman, akhirnya aku dan Jeli Maipura bersepakat untuk turun saja di Stasiun Madiun sambil mencoba peruntungan, siapa tahu setelah ini masih ada kereta bisnis yang langsung ke Yogyakarta. Jika memang tidak ada, kami akan menginap di Stasiun Madiun.

Setelah melihat jadwal keberangkatan kereta malam itu, ternyata kereta yang kami harapkan sudah berangkat semua. Hanya ada dua keberangkatan rangkaian kereta eksekutif yang terjadwal paling akhir dari Stasiun Madiun. Untuk soalan eksekutif, kami lebih memilih untuk tidur saja di stasiun ini.

Setelah Pengatur Perjalanan KA memberangkatkan dua rangkaian itu, berakhir pula pekerjaan para petugas stasiun untuk hari ini. Pukul 21.30, lampu-lampu stasiun dimatikan kecuali beberapa lampu yang cukup untuk menerangi sebagian stasiun. Berbeda dengan Stasiun Tugu atau Lempuyangan Yogyakarta yang selalu sibuk karena merupakan stasiun yang terletak di pertengahan jalur Jakarta/Bandung ke Surabaya. Stasiun Madiun tampaknya hanya aktif dari pukul 1 dini hari sampai pukul 21.30.

Aku pikir, WC umum dekat mushola masih bisa digunakan di malam hari. Ternyata, baru aku berniat untuk ke WC, tiba-tiba pintu sudah dikunci oleh mas yang jaga. Otomatis dah, hal itu membuatku mengurungkan niat ke WC umum. Sebagai langkah antisipatif, aku mencari pedagang air mineral di luar Stasiun Madiun. Kutukar sebotol sedang 500mL air mineral dengan sejumlah uang, dan kubawa ke semak-semak gelap di area stasiun. Lega melepas hajat.

Aku memilih tidur di kursi tunggu sedangkan temanku di teras musholla menggunakan sleeping bag. Namun, ketika aku mencoba untuk tidur, tidur menjadi pekerjaan yang sulit untuk aku kerjakan. Beberapa kali aku terbatuk-batuk dengan keras karena flu yang menyergap setelah aku berangin-angin ketika perjalanan di atas kereta tadi. Ketika kantuk menyapa, kembali aku terbangun karena batuk. Begitu terus hingga akhirnya aku bersyukur karena bisa juga aku tertidur.

Ternyata, baru aku berniat untuk ke WC, tiba-tiba pintu sudah dikunci oleh mas yang jaga. Otomatis dah, hal itu membuatku mengurungkan niat ke WC umum.

Kegiatan ngegembelku di Stasiun Madiun terpaksa harus terganggu ketika kereta-kereta jurusan Surabaya yang berangkat dari Jakarta dan Bandung tiba di Stasiun Madiun. Calon-calon penumpang sudah berdatangan sebelum pukul 1 malam. Padahal, kereta yang mereka tunggu baru akan tiba pukul 2 malam. Karena itu, aku memilih pindah posisi ke depan musholla karena rata-rata para calon penumpang lebih memilih menunggu kereta di peron stasiun ketimbang tempat lain. Syukurlah, aku masih bisa melanjutkan nikmatnya tidurku di malam itu.

Aku dibangunkan oleh adzan shubuh yang menggema dan menjamah setiap sudut stasiun. Dengan susah payah karena masih mengantuk, aku membereskan jaket yang kugunakan untuk menahan udara dingin Madiun. Temanku sudah bangun terlebih dahulu. Dialah yang membuatku benar-benar terbangun di pagi itu, karena tadinya aku masih dalam keadaan terpejam ketika membereskan perlengkapan tidurku.

Setelah sholat shubuh, aku bergegas mencari informasi tentang KRDI Madiun Jaya yang terjadwal berangkat pagi hari sekitar pukul 05.30. Kereta bertarif promosi Rp. 12.000,00 ini merupakan rangkaian kereta buatan PT. INKA, BUMN yang bergerak di bidang pembuatan kereta api. Salah satu rangkaian kereta buatan anak negeri ini sudah hadir di Lampung, provinsi kelahiranku. Kereta ini melayani trayek Bandar Lampung – Kotabumi dan dihias dengan ornamen khas Lampung dan diberi nama KRDI Seminung.

Kabin kereta ini sungguh bersih dan terang benderang.

Dua lembar tiket KRDI Madiun Jaya sudah kutukar dengan uang Rp. 24.000,00. Aku dan temanku segera mencari tempat duduk di kereta paling depan. Gumunan, kepingin lihat masinis kerja soalnya.

Kabin kereta ini sungguh bersih dan terang benderang. Dan kereta ini siap diberangkatkan dari jalur 3 Stasiun Madiun pada pukul 05.30. Stewardess juga sudah naik di kereta ini dan sedang sibuk menata barang yang akan dijualnya.

Akhirnya, tepat pukul 05.30, PPKA Stasiun Madiun memberikan semboyan 40, lampu hijau. Kondektur kereta menanggapinya dengan semboyan 41, peluit panjang. Disusul dengan masinis yang mengkonfirmasi dengan semboyan 35, klakson kereta yang dibunyikan panjang. KRDI Madiun Jaya berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Madiun menuju Solobalapan. Meninggalkan sebuah kenangan. Ah… It’s such a nice trip.

Iklan

4 thoughts on “Nyicip Nggembel di Stasiun Madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s