Njajah Tasiyun Milang Kori, Jogja – Blitar.

Standar
lempuyangan pagi hari

(foto minjem) lempuyangan di pagi hari

Hari Ahad lalu, 14 Februari 2010, salah seorang kawan karib ketika SMA, telah merayakan hari bahagianya. Mempersunting seorang gadis dari Blitar, kota kelahiran Presiden RI-1, Soekarno dan kampungnya Wapres RI-6, Boediono. Syukurlah, aku dan temanku bisa hadir di hari bahagianya, mewakili rasa bahagia sekian ratus alumni SMA seangkatan yang mengenalnya. hehe… lebay.

——

PERENCANAAN

Beberapa hari sebelumnya, aku dan seorang teman sekelas yang tinggal di Jogja akan berencana untuk acara resepsi di kota itu. Insya Allah berangkat tanggal 13 Feb. Dan kalo memungkinkan, pulangnya tanggal 14 Feb. Kalo ga bisa ya tanggal 15 Feb. Kata kuncinya, murah meriah. Berikut perencanaannya.

1. Kereta Api

0430. Motor dititipin di tempat titipan motor stasiun Lempuyangan. Beli tiket @20rb-an (ekonomi, jurusan Yogya – Kediri).
0520. Berangkat ke Kediri.
1300. Nyampe di Kediri, dzuhuran, makan, cari bis ke Blitar (taksiran ongkos Rp.10rb).
1400. Nyampe di Blitar, cari mesjid atau apalah buat nginep.
Perkiraan ongkos PP: Rp. 60rb-70rb perorang.

2. Motor

Jalur 1.

1000. Berangkat njemput temen di deket UGM.
1100. Cabut ke Madiun via Tawangmangu
1400. Madiun
1530. Kediri.
1630. Nyampe di Blitar

Jalur 2.

1000. Berangkat njemput temen di deket UGM.
1100. Cabut ke Kediri via Caruban
1530. Kediri.
1630. Nyampe di Blitar

Jalur 3.

1000. Berangkat njemput temen di deket UGM.
1100. Cabut ke Ponorogo via Wonogiri
1400. Ponorogo
1630. Nyampe di Blitar

perkiraan ongkos PP: Rp. 60rb permotor.
Analisa

1. Kereta.

Siang-siang di KA ekonomi tuh panasssss… 7-8 jam. Banyak tukang ngamen ‘n asongan yang bikin suasana tambah panassss….. Btw, enak sih, naek kereta kan tinggal duduk. Angkutan di Blitar juga aku ga ngerti bakal naek apa ntar ke gedung manten.

2. Motor

Memang hobi sih… Pernah jalan paling jauh ke Jawa Timur tuh, cuma nyampe Madiun yang waktu tempuhnya 4 jam. Selama ini, aku udah pernah coba tiga jalan untuk ke Madiun. Pertama lewat Ngawi, kedua lewat Tawangmangu, dan ketiga lewat Wonogiri. Semua jalannya enak, kecuali jalur Tawangmangu. Motorku sempet ga kuat naik di salah satu tanjakan. Maklumlah, motor Grand angkatan 96.

Eniwei, ada satu pom bensin yang ga aku suka di sini. Sehingga aku kasih predikat dia “POM Bensin Pasti Ga Pas”. Tempatnya deket Sarangan, Magetan.

Jalur 1.

Jalur ini keren abis. Banyak tikungan cinta (hihihi..). Pemandangannya juga keren. Soalnya jalan ini terletak di punggung gunung Lawu. Kita bisa menemukan pintu masuk untuk naik ke Gunung Lawu via Cemorosewu di sini. Selain itu, hutan lebat bakal jamak kita lihat sepanjang perjalanan dari Tawangmangu ke Telaga Sarangan. Hanya saja, motorku pernah ga kuat diajak nanjak di salah satu tanjakan di jalan ini. Terpaksa temen yang ngebonceng motor ku suruh jalan kaki.

Kendaraan roda empat yang lewat sini bisa dibilang sedikit. Kecuali setelah kota Magetan, kita bakal banyak nemuin “pengendara berani mati” yang ngebut banget bawa motor. Eniwei, ada satu pom bensin yang ga aku suka di sini. Sehingga aku kasih predikat dia “POM Bensin Pasti Ga Pas”. Tempatnya deket Sarangan, Magetan.

Jalur 2.

Jalanannya lebar sampe Sragen. Jalan yang paling keren tuh di sekitaran Mantingan sama daerah Nganjuk. Lagi-lagi hutan lebat dan jalan berlubang. Enaknya, di sini banyak tempat istirahat ketimbang Jalur 1. POM Bensinnya gede-gede. Oh iya, FYI, POM Bensin itu dibagi tiga. Pasti Pas, Nggak Pasti Pas, dan Pasti Nggak Pas. Untuk penjelasannya, di tulisan yang lain yah… 
Btw, aku masih buta sama Kertosono – Blitar yang jaraknya 80an kilo.

Jalur 3.

Jalur 3 ini jalur kenangan… hahahaha… yang ini ga bakal aku ceritain di edisi mana pun.
Jalannya aspalan semua. Tikungannya juga keren-keren. Tapi ga se-ekstrim jalur 1. Kekurangannya, ga ada tempat istirahat! Di jalur klaten-wonogiri, sulit banget nemuin tempat istirahat. Apalagi wonogiri-trenggalek. Banyakan sih, di kota Wonogirinya. Aku lewat jalan ini sebanyak 3x PP dan 1x P.
Untuk jalur ini, aku masih buta sama jalur Trenggalek – Blitar yang jaraknya 65an kilo.

——–

PELAKSANAAN

Setelah mencari info, akhirnya kami menyepakati untuk naik kereta. Hanya saja, menurut sumber yang kami percaya, kereta yang harus kami naiki adalah kereta Sri Tanjung jurusan Yogyakarta-Banyuwangi berangkat 07.30, turun di Kertosono, dan melanjutkan perjalanan dengan KA komuter lokal, Rapih Dhoho.

OK..! Let’s get it on!

Sabtu 13 Februari 2010. Setelah menitipkan sepeda motor di salah satu tempat penitipan sepeda motor, aku segera mencari temanku, Jeli (http://maipura.wordpress.com), di loket Stasiun  Lempuyangan sekitar pukul 7.10. Janjinya sih, pukul 7. Ternyata, walaupun aku sudah berusaha untuk bangun lebih pagi saat itu, aku harus menyelesaikan sedikit masalah packing dan perbekalan. Ongkos tiket jurusan Yogya – Kertosono Rp. 19.500,00 perorang.

Pengen juga sih, nyoba jalur yang ini. Kebetulan aku punya paklek di Semarang yang bisa jadi tempat mampir.

Double Track yang berakhir di Stasiun Solo Balapan menemani perjalanan kami. Setelah lewat dari Solo Balapan, Double Track berubah menjadi Single Track ke arah timur. Ada juga jalur yang mengarah ke utara, Semarang, yang melewati hutan-hutan jati dan stasiun-stasiun jadul buatan belanda. Pengen juga sih, nyoba jalur yang ini. Kebetulan aku punya paklek di Semarang yang bisa jadi tempat mampir.

Haha…, setelah lewat stasiun balapan, perjalanan ini adalah perjalanan pertama kali ke daerah timur menggunakan kereta api. Suasana di dalam kabin kereta api gerah sekali. Karena setelah masuk daerah Ngawi, matahari sudah cukup tinggi dan terasa terik.

Sepanjang perjalanan dari Yogya, kami disuguhi peristiwa unik. Seorang backpacker berdarah korea yang juga ikut kereta ini dengan tujuan ke Bali. Ehm, mungkin dia ga tau kalau kereta ekonomi adalah kereta sejuta umat. Memang sih, dibanding kereta kelas Bisnis, kereta ekonomi bisa memiliki tarif yang berbeda jauh. Hampir 80% lebih murah.

Gadis korea itu duduk di bangku seberang kami, mepet dengan jendela. Berhubung dia nggak bisa bahasa indonesia dan penumpang yang duduk bersamanya nggak bisa bahasa inggris, jadilah bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa isyarat.

Ia suka sekali dengan keripik pisang pemberian pasangan duduknya. Awalnya sih, dia bertanya, ini apa? Penumpang yang menawarkan memberi isyarat, ketika kereta melewati sebuah kebun pisang, ia menunjuk-nunjuk, seolah-olah ingin memberi tahu jika makanan yang ia makan dibuat dari tumbuhan yang ditunjuknya. Dan gadis korea itu pun mengerti. Ia sangat menikmati keripik itu hingga hampir saja ia menghabiskan satu kantong plastik besar.

Kami tiba di Kertosono sekitar pukul 12.30. Kereta Rapih Dhoho yang kami tunggu baru akan masuk Kertosono sekitar pukul 13.15an. Sehingga kami memanfaatkan waktu antara itu untuk sholat zhuhur jama’ ashar dan makan siang di salah satu warung di stasiun itu.

Sekitar pukul 13.15 di siang yang terik dan lembab itu, KA Rapih Dhoho berjalan dengan anggun dari arah Surabaya masuk ke Kertosono. Rangkaian kereta komuter lokal ini mirip seperti Kereta Odong-odong yang berhenti di tiap stasiun di Jakarta. Kereta ini ditarik Lok CC201 (ref semboyan35).

Berhubung kami tidak kebagian tempat duduk, akhirnya kami memilih untuk nongkrong di bordes. Sepanjang perjalanan Kertosono – Blitar, kereta ini selalu berhenti di stasiun-stasiun kecil. Tercatat ada tiga stasiun besar yang kami lewati. Stasiun Kediri, Stasiun Tulungagung, dan Stasiun Blitar. Baru di Stasiun Tulungagung kami bisa memperoleh tempat duduk setelah puas nongkrong di bordes selama 3 jam. Alhamdulillah, tiba di Wlingi, Blitar, pukul 17.30.

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta terakhir untuk hari ini. Suasana Wlingi sore itu tampak seperti kota mati menyambut kami. Sebagai ibu kota kecamatan yang dilalui jalur kereta api, cukup aneh juga jika kota ini tampak seperti kota mati. Namun, gambaran itu tiba-tiba buyar ketika kami keluar dari stasiun dan melalui jalan utama Blitar – Malang yang membelah kota itu. Memang, letak stasiun terletak agak di pinggir kota. Sehingga pemandangan yang kami lihat, kontras dengan keadaan di tengah kota.

Hujan deras seakan tidak pernah bosan menemani perjalanan kami dan merembes masuk ke tempat kami duduk di bordes kereta itu. Akibatnya, kami sulit untuk duduk selonjor ataupun tidur menggunakan koran.

Sehari setelahnya, Minggu 14 Februari 2010, seusai acara resepsi, kami mohon pamit pulang ke Yogyakarta. Kami diantar ke Stasiun Wlingi oleh keluarga teman kami untuk mengejar kereta Matar Maja Ekspres jurusan Malang – Pasar Senen yang berangkat pukul 17.30. Tiket seharga Rp. 26.000,00 untuk jurusan Wlingi – Solo Jebres sudah berpindah ke tangan kami. Namun sayang, lagi-lagi kami tidak mendapatkan tempat duduk. Sehingga praktis, selama perjalanan pulang, kami lagi-lagi tidak duduk.

Hujan deras seakan tidak pernah bosan menemani perjalanan kami dan merembes masuk ke tempat kami duduk di bordes kereta itu. Akibatnya, kami sulit untuk duduk selonjor ataupun tidur menggunakan koran. Bosan dan lelah akhirnya menyapa kami dan membuat kami bersepakat untuk turun saja di Stasiun Madiun.

Stasiun Madiun, pukul 20.15. Aku sempatkan untuk melihat jadwal kereta untuk malam ini, siapa tahu masih ada kereta kelas bisnis yang lewat. Namun, ternyata kereta bisnis sudah tidak ada tersedia lagi untuk jadwal malam ini. Adanya kereta kelas eksekutif. Dan kereta tujuan Solo baru ada besok pagi, KRDI Madiun Jaya. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di stasiun ini (ceritanya di sini)

Suasana malam di Stasiun Madiun jauh berbeda dengan Stasiun Tugu atau Lempuyangan. Kereta yang berangkat pukul 21.15 merupakan rangkaian kereta terakhir yang diberangkatkan dari stasiun ini. Setelah itu, lampu-lampu stasiun dimatikan kecuali lampu ruangan Pemimpin Perjalanan KA disusul beberapa pegawai stasiun yang meninggalkan stasiun untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, belum sampai satu jam aku tidur, terdengar suara asing di telingaku. Sebuah kendaraan PPJ yang menyerupai kereta kecil yang sudah dimodifikasi menggunakan sepeda motor. Mirip seperti sepeda motor roda tiga yang jalan di atas rel. Bedanya, kendaraan ini rodanya ada 4.

Pagi harinya, KRDI Madiun Jaya siap diberangkatkan pada pukul 05.30 dari jalur 3 Stasiun Madiun. Kereta produksi anak bangsa dari perusahaan BUMN INKA ini bertarif Rp. 12.000,00 untuk trayek Madiun – Solobalapan. Namun, itu masih tarif promosi. Semoga saja kalau sudah tidak promosi lagi, tarifnya tidak terpaut jauh.

Kereta ini terbilang nyaman. Gerbongnya terang benderang karena disinari oleh banyak lampu. Tempat duduknya pun nikmat untuk jadi tempat tidur karena ada bantalan busa. Tidak seperti prameks yang plastik semua. Selain itu, KRDI Madiun Jaya tiba di Solobalapan sekitar pukul 07.24. Sungguh tepat waktu! Namun, karena Prameks yang akan berangkat ke Yogya diberangkatkan sekitar pukul 08.30, kami sempatkan dulu untuk sarapan pagi di dekat Stasiun Solobalapan.

Suasana Stasiun Solobalapan pagi itu diramaikan oleh calon penumpang yang hendak ke Yogyakarta menggunakan Prameks. Sedangkan di sebelah utara, KA Logawa jurusan Bandung baru saja diberangkatkan. Akhirnya, setelah menunggu beberapa menit, Prameks yang dinanti tiba juga di Solobalapan. Anyway, kereta ini sudah dipenuhi oleh penumpang dari Solo Jebres. Terutama anak-anak TK. Sehingga suasana kereta ini diramaikan oleh riuh rendah suara mereka. Dan pukul 08.30, Prameks pun meninggalkan Solo Balapan.

Tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sekitar pukul 09.30. Mampir dulu ke tempat penitipan sepeda motor untuk ambil kendaraan. Ongkosnya Rp. 1500 perhari. Total untuk tiga hari, Rp. 4.500,00. Selamat datang kembali di Yogya, dengan segala rutinitas yang ada.

Iklan

8 thoughts on “Njajah Tasiyun Milang Kori, Jogja – Blitar.

    • ni belum lengkap akhi… belum sama kuliner di keretanya. itu tuh, beli makanan khas kereta. tiap kereta masuk daerah tertentu kan, ada makanan khas yang dijajain sama pedagang lokal sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s