Syukurku pada Allah Ketika Kulihat Wajahmu (Peristiwa Sepersekian Detik)

Standar

Mungkin cerita sentimentil ini sudah pernah kamu dengar, walaupun sebenarnya aku malu untuk menceritakannya kembali. Kendati demikian, dengan tujuan berbagi hikmah, aku ingin sekali lagi berbagi kisah kepadamu dengan menukil sepersekian detik dari sebuah rentang waktuku agar hatiku menjadi tenang.

Aku sering melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor melalui jalanan hitam, berdebu, dan beraroma solar. Setiap jalanan yang kulalui, banyak sekali kujumpai pengguna sarana publik ini. Entah dia yang berjalan kaki, mereka yang naik kendaraan, atau pun para anak jalanan. Dan yang menurutku indah, setiap ruas jalan melukiskan drama kehidupannya sendiri-sendiri. Ada lukisan  pengamen punk yang sedang memetik gitar di perempatan lampu merah, lukisan kehidupan mewah para pengendara mobil, lukisan beratnya menjadi mahasiswa semester akhir, lukisan potret senyum seorang pemuda bertoga wisuda bersama kedua orang tuanya, dan lukisan-lukisan indah lainnya tentang kehidupan.

Hingga suatu saat, ketika aku sedang melakukan perjalanan di suatu sudut kota, mataku tanpa sengaja tertumbuk pada wajah teduh seorang perempuan yang terbingkai jilbab, seorang akhwat. Bibirku bergetar…. “Astaghfirullah… Masya Allaah!!!”*).

Peristiwa itu membuat dunia tempatku berpijak seakan berhenti sepersekian detik, godaan menuntutku untuk meneruskan pandangan. Namun, aku berusaha melawannya. Aku harus segera mengalihkan pandangan karena teringat untaian kalimat “pertama itu dimaafkan, kedua itu haram.” 

Dan sepersekian detik kemudian, keajaiban itu terjadi. Tiba-tiba bumi terasa berpendar dengan cahaya warna-warni yang gemerlap. Indah dan membius. Membuncah dan menggelegak di saat diri terekstase yang amat sangat setelah peristiwa sepersekian detik itu. Ketika itu juga aku bersyukur atas sebuah nikmat yang diberikan Allah. “Alhamdulillah… aku masih diberikan kenikmatan untuk melihat ciptaanmu ya Allah!”

Lain waktu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan akhwat tersebut. Bahkan menyengaja untuk menemukannya di tempat yang sama pun tidak mau. Kendati riak-riak wajahnya sudah terlukis dengan gaya lukisan abstrak di kepalaku.

Aku tidak berharapkan pertemuan dengannya lagi. Karena aku yakin, Allah telah meletakkan lukisan-lukisan yang indah di setiap ruas-ruas jalan yang akan kulalui. Keindahan itu adalah ujian dari Allah. Dan kita akan selamat apabila kita mensyukuri apa yang telah Allah berikan pada kita, dengan menikmatinya sesuai dengan kadarnya dan syariat yang telah ditentukanNya. Dan kita juga harus cepat-cepat memohon ampun, apabila kita terlena dengan nikmat yang Allah berikan pada kita.

Terinspirasi ketika teringat kisah perjalanan Rasulullah salallaahu alaihi wasallam bersama Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhahu.*)

Keindahan (baca: keanggunan) yang sangat subjektif, karena kriteria kita tentang keindahan mungkin tidak sama.

[Telah direvisi dari tulisan aslinya.]

Iklan

3 thoughts on “Syukurku pada Allah Ketika Kulihat Wajahmu (Peristiwa Sepersekian Detik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s